Northeast's snowflake.

Mei 12, 2020

                               
Hai! Gue kangen liburan. Dalam artian liburan yang sebenarnya. Bukan mendekam didalam rumah sambil menunggu online classes dan mengerjakan tugas kayak sekarang. Lagipula, gue memang jarang banget pergi liburan. Kebanyakan waktu liburan gue dihabiskan dirumah, atau paling mentok, yah, keliling Jakarta. Ini karena orang-tua gue yang punya tugas untuk melindungi NKRI sehingga sangat susah punya izin liburan. Imbasnya, gue dan adik juga jarang punya waktu liburan, bahkan keluar kota. Bahkan sampai detik ini gue nggak pernah tau bagaimana itu Bali. Padahal masih sama-sama Indonesia. Satu daerah yang selalu gue sambangi bolak balik, walaupun nggak setiap tahun, adalah Sumatera Barat. Jelas, it's my parents's hometown. 


Tapi awal Februari tahun ini, gue mendapat kesempatan untuk berlibur. Well, gak bisa dibilang berlibur di waktu liburan karena jelas gue bolos dengan alasan 'mengunjungi keluarga di Luar Negeri karena mau ada acara' yang mana sangat bullshit. Gue sama sekali gak punya keluarga yang bermukim di luar negeri. Di seluruh daerah Indonesia mungkin, karena we're minangnese afterall, kita merantau, bos! Alasan tersebut akhirnya disetujui Kepala Sekolah (ya, disekolah gue sangat strict masalah absen, sampai-sampai izin ke luar kota atau negeri harus izin kepsek.) And yes, holiday we go! 

Perlu diingat, liburan ini adalah pertama kalinya gue pergi keluar negeri. I made my passport 3 months before to my departure, sebelumnya gue nggak punya paspor. Padahal, gue punya saudara di Batam dan beberapa kali menyambangi mereka. Kalau aja gue punya paspor dari dulu, pasti sudah bolak-balik Singapore. Gue inget banget, gue make up secantik-cantiknya sebelum berangkat ke kantor imigrasi untuk membuat paspor biar punya foto paspor yang cantik. Tapi ternyata antrian kantor imigrasi memang nggak bisa dimaafkan. Alhasil, sama aja kayak foto KP dan KIA gue, gue punya foto identitas yang buluk parah. But i can say my passport's photo is better than my other id's photos. 

And my first abroad trip, is without my parents. Yes, yall read that right. Orang tua gue stay di Jakarta karena gak bisa ninggalin dinas, jadi gue cuma berangkat berdua sama adek. It's not like gue bakal stranded di negeri orang, kok. Gue pake travel, dan karena the whole trip itu acara dari tempat bisnis sampingan mami, dan ada tante juga yang ikut, makanya mami dan papi nggak terlalu khawatir. Tapi tetap aja, gue masuk imigrasi negeri orang. What's more scarier than leaving your country for the first time without parents??

Oke, gue lupa mention kalau destinasi liburan gue kali ini berada di utara bagian timur bumi, kayak di judul. To be precise, South Korea. Negara yang sudah lama menjadi salah satu negara dalam list countries to visit before i die. Apalagi ini Korea Selatan, negara tempat idols gue tinggal dan meniti karir. I am more excited than ever. 

Perjalanan dimulai tanggal 4 Februari 2020. Gue dapet flight malam sekitar jam 11.30. Maka dari itu, paginya gue masih sekolah. Bukan keinginan gue sih, tapi mami memaksa karena sayang kalau ketinggalan materi dan bisa absen lebih sebentar. Jadi gue tetap masuk, walaupun jam 12 siang sudah dijemput karena harus siap-siap dan berangkat dari rumah jam 3 siang. Sengaja berangkat sangat awal karena macet kearah Soekarno-Hatta Intl Airport itu gak bisa dipikir pakai akal dan logika.

Lalu waktu sampai, gue ga berhenti amazed karena ini juga kali pertama gue masuk Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta yang katanya bagus banget (dan emang bagus banget!). Gue emang anak Jakarta karbitan, guys! Hehe. Tentu aja gue nggak lupa foto didepan terminal ala-ala orang mau berangkat liburan gitu.




Males filterin tapi anggap aja udah aesthetic

Setelah pengarahan dari tour leader, kami mendapat kartu embarkasih dan tiket pesawat ofkors. Setelah kartu embarkasih diisi, ada selang waktu beberapa menit sebelum rombongan masuk ke imigrasi. Tapi gue enggak kemana-mana melainkan dengar wejangan mami dan papi tentang betapa gua harus hati-hati dan jagain adek gue. Gue cuma manut-manut aja. Gue denger kok, semua pesan nya haha! Karena lapar dan perkiraan waktu makan di pesawat sekitar jam 5 pagi waktu Indonesia Barat (berarti jam 7 pagi waktu Korea Selatan) jadi kami memutuskan buat makan malam dulu di Marugame Udon. 

 Sehabis itu gue dan adek langsung aja ngacir ke imigrasi karena lama banget kalau harus nunggu rombongan. Toh, di waiting room pasti ketemu lagi. Didepan imigrasi gue bertemu dgn tante dan teman-teman Mami. Jadi sekalian aja masuknya. Gue enggak tahu kalau antrian pemeriksaan barang di imigrasi sepanjang itu. Jadi gue yang short tempered parah udah bete duluan. Tapi ternyata walaupun panjang antrian nya cukup cepat. 

Sayangnya, gue dan teman mami sempat tertahan di pemeriksaan barang. Gue tertahan karena gue membawa gunting di tas yang mau gue bawa ke cabin. Gue emang selalu bawa gunting di pouch make up. Tapi berhubung guntingnya kecil (seperti gunting bedah gitu,deh) Akhirnya dibolehkan untuk dibawa ke cabin. Sementara teman mami terpaksa harus meninggalkan lotion nya karena lebih dari batas yang ditentukan. Untungnya, walaupun gue jarang naik pesawat, gue tau kalau di kabin pesawat punya ketentuan membawa cairan. Satu-satunya cairan yang gue bawa ke cabin adalah parfum. 

Selanjutnya yaitu imigrasi. Gue takut banget ga bohong karena ini kali pertama gue masuk imigrasi dan menurut teman-teman yang sering going abroad, imigrasi itu nyeremin. Apalagi gue pergi tanpa orangtua. Benar aja, waktu petugas imigrasi membuka paspor gue, hal pertama yang ditanyakan adalah "Orangtua nya mana?" Gue panik karena gue takut salah jawab dan berakhir nggak diizinkan terbang. Tapi gue mencoba tenang sebaik mungkin. 

"Nggak pergi sama orangtua. Saya sama adek saya," terus gue nunjuk ke belakang, tempat adik gue mengantri sambil main hape dan pegang koper. "Nanti kita bareng travel tapi sekarang mau masuk duluan aja biar cepat." Petugas imigrasi cuma jawab, "Oke, nggak sendirian ya berarti. Hati-hati." lalu menstempel paspor gue. Dingin banget jawabnya gue takut. 

Setelah itu gue, adik gue, tante dan teman-teman Mami masuk ke waiting room. Gue sempet ngacir ke duty free dulu, tapi nggak beli apa-apa karena semua uang gue sudah menjadi won. Uang di kartu debit juga sengaja nggak dipake karena jaga-jaga jika cash habis, gue bisa gesek disana. Habis itu gue kembali ke tempat adik gue menunggu. Waktu itu sudah jam 9 malam kalau nggak salah, masih lumayan banyak waktu sebelum boarding. 

Left ; diambil dari archive Instagram.
Right ; gue, di waiting room. 

Lalu boarding. Gue naik pesawat Garuda direct ke Incheon. Dalam hati gue bersyukur, karena kalau harus turun-naik pesawat akan menyebalkan. Tapi membayangkan 7 jam didalam pesawat yang sempit membuat gue sedikit bergidik. Gue anaknya gak mau diam. Tapi hebatnya, gue bisa bertahan selama tujuh jam itu. Nggak banyak cerita selama di pesawat karena banyak gue habiskan dengan tidur dan menonton film. Tapi gue inget banget sunrise pagi itu, diatas pesawat. Cantik banget but gue nggak sempat take fotonya karena tempat duduk gue yang berada di tengah, bukan pinggir. But i am lukcy to witness that with my own eyes. Lain kali gue harus long flight, gue bakal ambil penerbangan malam lagi. Sunrise di pesawat nggak ada duanya. 

-Day 1.- 

Archive dari instagram


Imigrasi Korea Selatan is another story to tell. Waktu itu, virus COVID-19 baru aja masuk Korea Selatan dan gue inget banget, sekitar 5 orang didepan gue adalah WN China. Setelah itu, mbak cantik WN China itu menyerahkan paspornya, petugas imigasi langsung heboh sambil teriak, "중국사람!중국사람!" (Jungook saram!/ Chinese people!). Nggak lama datang beberapa petugas lain yang lebih steril daripada petugas lain nya. Lengkap dengan masker dan sarung tangan. Lalu mbak WN China tsb dicek suhunya dan entah dicatat begitu,deh. Jadi agak lama di barisan kubik kami. Oleh karena itu, kubik-kubik lain memanggil orang-orang di barisan kubik kami. Tapi gue yang unik! Gue dipanggil sama kubik khusus diplomat. Padahal paspor gue paspor hijau biasa kok, hehe. Didepan gue ada beberapa bule berpakaian formal. Kalau gue tebak dari warna paspornya, sepertinya mereka orang Belanda. Gue merasa keren seketika, cuma karena gue masuk Korea Selatan via jalur imigrasi paspor biru :D. 

Pertama kali keluar dari imigrasihal yang gue incar adalah convenience store. Untungnya ada 7-11 didalam terminal. Gue dan adik gue langsung aja membeli starbucks (iya, di 7-11!) dan hotpack. Suhu di Incheon waktu gue landing adalah -9 derajat celcius. Hal yang baru banget buat anak Jakarta/Bekasi kayak gue yang terbiasa dengan suhu diatas 30 derajat. Sumpah, awalnya gue takut beku ditengah jalan. I wonder how these people cope with the weather. 

Benar aja, dingin banget! My gloves stuck in my bag dan gue udh ketinggalan rombongan. Alhasil, gue merelakan keluar dari bandara tanpa gloves. Dingin banget kayaknya gue mau mati! Tapi ditengah-tengah suffering itu, gue nggak lupa norak dengan asap yang keluar dari mulut karena cuaca yang dingin banget Sakit boleh norak jangan lupa!  

Sehabis itu bis melaju ke Paju. Destinasi kami kali ini adalah Paju Provence Village. Semacam desa buatan bernuansa eropa di daerah Paju, Gyeonggido. Jujur aja gue gak terlalu tertarik, karena ngapain gue ke Korea Selatan buat ngeliat nuansa eropa? Kenapa nggak ke eropa sekalian? Lagian, kampung bernuansa eropa begini di Bandung juga banyak! Hehe, no offense. Ini pendapat pribadi. But tempatnya bukan nggak bagus, sangat comfy buat dipake keliling-keliling. Ada beberapa toko-toko kecil, kebanyakan outlet dan toko roti. Ada toko roti yang enak banget Gue nggak beli tapi gue coba testernya. Hanya saja gue nggak tertarik ke miniatur-miniatur landmark eropa kayak tante gue dan ibu-ibu lain nya. Jadi take photo seadanya aja. 

 

Masih belum ganti baju karena dari Airport langsung menuju Paju. 

Setelah selesai mengitari Paju Provence Village, destinasi selanjutnya adalah Bibimbap Culture Center untuk makan siang. God, akhirnya perut gue diisi juga! Tentu aja, kayak namanya, restoran ini menyediakan Bibimbap atau nasi campur korea dengan nuansa yang korea abis! Gue gaktau bibimbapnya bisa dibilang enak untuk lidah korea atau nggak tapi buat lidah gue, ini enak banget! (Ini datang dari orang yang benci sayur, berarti kalian harus coba, haha ><) Selain itu ada daging bebek yang kayaknya di goreng, ini juga enak banget! Gue bisa bilang lebih enak daripada bibimbapnya. Apalagi gue pencinta daging bebek, hidangan ini jadi tambah enak. Bebeknya chewy dan bumbunya terasa. Duh, jadi pengen balik lagi cuma buat makan :D. 



Bibimbap Culture Center adalah destinasi terakhir di Paju. Destinasi setelahnya adalah hotel kami, yaitu High1 Resort yang terletak di Jeongseon, Gangwondo. Karena berbeda provinsi, perjalanan yang ditempuh cukup jauh, sekitar 3 jam. Ditengah-tengah perjalanan bis sempat berhenti di semacam rest area, ada tempat jajan nya juga! Disini tempat pertama kali gue lihat dan pegang salju! Karena di Paju enggak ada salju, cuma sisa es saja. 


Maafkan muka norak pertama kali ketemu salju ini XD

Kami sampai di Jeongseon sekitar jam 8 malam. Sebelum mengakhiri perjalanan hari pertama dengan makan malam. Pihak travel membawa kami ke restoran sup daging. Gue lupa namanya apa karena terlalu lapar dan nggak lihat menu. Rasa supnya masih bisa dinikmati lidah orang indonesia, walaupun kebanyakan orang satu travel gue memakan supnya dengan saus sambal atau bon cabe yang dibawa dari Indonesia. Kalau gue, sih, memilih menikmati rasa aslinya walaupun memang kurang asin kalau dibandingkan dengan makanan Indonesia. Setelah makan, travel mempersilahkan kami buat melihat dan membeli strawberry yang katanya enak. Tokonya ada disamping restoran. Tapi gue bukan penikmat strawberry, jadi gue malah ngacir ke GS25 buat beli susu dan sosis yang selalu muncul di video mukbang youtube. 

 

Left : nggak sempat foto makanan nya versi aesthetic.
Right : Gue, abis jajan di GS25. Ini fotonya disamping GS25. 

Kami menuju ke Hotel setelah semua orang selesai makan dan belanja. Pertama kali gue dateng, gue kaget hotelnya mewah banget. Gue emang nggak tau apa-apa tentang trip ini selain, bakal main salju dan belanja di Seoul pada hari ketiga. Gue menginap di High1 Resort yang brand ambassadornya Naeun dan Gunhoo Park! Fyi aja, gue fans berat dua bocah itu di TROS. Gue kegirangan sendiri waktu lihat foto mereka di lobby. Gue nggak banyak ambil foto di hotel karena sampai pindah hotel pun kami selalu pulang malam, tapi hotelnya nyaman banget. Sesampainya gue di kamar, gue langsung berendam air hangat. 

Gue lupa mention kalau di Korea, jarang toilet yang mempunyai bidet. Bidet hanya ada di smart toilet (yang tombolnya banyak, Jepang juga banyak.) Jadi kalau teman-teman ada yang berencana pergi ke Korsel, hygienic wet tissues is a must. Kalau ketemu smart toilet, beruntunglah kalian! Toilet ini bisa diatur suhunya, kekuatan air yang keluar dari bidet, bahkan sampai pengeringnya juga ada loh! 

-Day 2.- 

Jadwal pertama hari ini adalah sarapan. Sarapan nya nggak terlalu berkesan karena cuma sarapan khas hotel. Tapi gue dapat kesempatan buat menyicipi yoghurt legendaris Korea yang disediakan. Rasanya.. ya sama aja, sih, kayak yoghurt-yoghurt lain. Destinasi selanjutnya adalah High1 Ski Resort untuk main ski! This is what i've been waiting for since the first day.  

 

Left : Enyo, yoghurt legendaris.
Right : Me, again, disamping lift ada jendela yang langsung menghampar ke salju yang luas. 


Gue bisa bilang Jeongson-gun itu Arendelle cabang Asia Timur. Karena benar-benar, kota ini isinya salju semua! Gue khawatir suatu hari nanti kota ini malah terendam salju. Sepanjang perjalanan ke Ski Resort, yang bisa gue lihat cuma guung-gunung dan salju. Hebatnya, internet gak pernah ngadet bahkan di daerah seperti ini. 

Ohiya, karena memang daerah pegunungan dan salju yang banyak, Jeongson emang dingin banget. Dari awal kami menginjakkan kaki, kami disambut dengan suhu -15 derajat (tapi feels like -18 derajat karena angin cukup kencang). Pagi itu lumayan, cuma -11 derajat. (Gue sudah bisa bilang cuma buat suhu segitu! Haha ini revolusioner, karena hari sebelumnya gue hampir mati karena suhu -9 derajat). 

Setelah sampai ke Ski Resort, kami harus menaiki cable car, lalu masih harus mendaki lagi untuk sampai ditempat tujuan bemain ski. Naik cable car itu mengerikan, buat gue yang takut tinggi. Selama berada di cable car, gue nggak henti-hentinya tarik nafas-buang nafas sambil istighfar. Padahal sebelumnya mana pernah. Suhu diatas kurang lebih -21 atau -23 derajat, gue lupa. Tapi gue rasa it's all worth to sacrifice, cuma hamparan salju sepanjang mata memandang. Is this heaven? Look like it is!  


Left : Muka nahan takut dan muntah karena ketakutan. It looks cool, tho.
Right : Scenery dari atas cable car. anyway, thats my bro's arms. 



Sehabis itu kami makan siang. Kalau nggak salah, makan siang hari itu adalah dakgalbi. Tapi gue lupa foto. Kami makan siang di Hotel, karena dari Ski Resort ke Hotel dekat. Kami nggak terlalu lama di Hotel karena hanya makan siang. Destinasi selanjutnya adalah Samtan Art Mine, lokasi shooting Descendants Of The Sun, 






Karena sedang winter, nggak terlalu kelihatan kalau Samtan Art Mine itu lokasi shooting Descendants of The Sun. Tapi saljunya banyak sekali! Lebih banyak daripada di High1 Ski Resort. Bahkan, kaki gue sampai tenggelam. Gue nggak ngeluh, ini mah namanya surga! Bisa nggak sih salju-salju ini dibawa ke Bekasi aja? Bekasi udah terlalu panas!



Gue juga sempat main perang salju sama adik. Seru banget! Kayanya celana gue lebih basah disini daripada saat main ski. Tapi kayak yang gue bilang sebelumnya, it's all worth to sacrifice. Bahkan gue baru sadar celana gue basah pas gue sudah di bis! (ps. celana nya bukan basah seperti tenggelam, tapi cuma lembab.)



Destinasi selanjutnya adalah Jeongseon Arirang Center, pusat kebudayaan Arirang. Arirang itu semacam pertunjukan teater tradisional Korea yang berasal dari Jeongseon. Disana juga ada bazaar kecil juga rumah-rumah tradisional.Gue sempet beli eomuk.  Kami juga menonton pertunjukan Arirang. Disediakan subtitle Bahasa, pula! Gue nggak foto selama pertunjukan karena dilarang. Tapi overall, gue sangat menikmati petunjukan nya! Dikasih lighstick,loh! Berasa nonton konser Kpop aja, hehe. 





Right : lightstick yang fotonya baru gue take tadi, didalam kamar. Masih gue simpan buat kenang-kenangan pernah nonton Arirang. 


Schedule terakhir di Gangwon kami akhiri dengan kembali ke hotel untuk makan malam dan beristirahat. Menu makan malamnya adalah makanan rumah Korea. Enak walaupun cuma makanan sederhana. Sehabis itu kami kembali ke kamar masing-masing. Sebelum tidur, gue memutuskan untuk berendam air panas lagi. 



- Day 3 -

Jadwal pertama masih sarapan, tapi sama aja dan nggak berkesan. Sarapan khas hotel. Habis itu kami melaju ke Seoul. Perjalanan sekitar 3 jam. Ditengah-tengah perjalanan kami turun di Yongin untuk makan siang. Gue seneng banget, karena Yongin itu kampungnya Dokyeom SEVENTEEN. Padahal cuma turun buat makan siang ><





Menu makan siangnya adalah DAGING! Lebih hebat lagi, daging all you can eat. Entah berapa piring gue dan adik gue habiskan. Kayaknya sekitar 5 atau 6 piring penuh daging, hanya untuk kami berdua. Haha kenyang banget ga bohong.



Perjalanan berjalan mulus sampai Seoul. Seoul is warmer than i thought. Selama di Jeongseon suhu nggak pernah diatas -10 derajat. Tapi waktu gue datang, gue disambut dengan suhu 2 derajat. Kalau gue di Bekasi gue mungkin bakal bilang ini dingin banget. Tapi badan gue yang sudah tiga hari di Korea malah kegirangan karena suhu anget ini. 

 

Sesampainya di Seoul bus berhenti di Shilla Ipark Duty Free untuk berbelanja. I treated myself some liptints and skincares. Tapi nampaknya ibu-ibu di rombongan gue lebih semangat. Mereka belanja banyak sekali gue sampai speechless. Padahal baru sampai Seoul. Masih ada besok untuk berbelanja di Myeongdong. Sehabis itu kita sempat ke pusat gingseng dan red pine tree, tapi gue nggak punya dokumentasi karena nggak boleh foto-foto. Gingseng center memorable banget karena mereka menyediakan tester barang-barang yang dijual, dan gue sempet cobain dodol gingseng (lupa nama koreanya apa) dan semacam cookies, i assume dari gingseng yang juga enak banget!

Gue juga sempat mampir ke gedung MBC dan SBS walaupun cuma didepan nya! :D. Tempat ini bersejarah banget buat gue karena SEVENTEEN debut di MBC! Ibaratnya gue ziarah ke tempat debutnya SEVENTEEN, hehe/ Gue nungguin beberapa menit tapi kayaknya nggak ada idols yang lewat, jadi gue memutuskan buat ke 7-11 dan beli Banana Uyu yang hits banget itu.


Malamnya ketika schedule sudah selesai, gue berniat buat ke Hongdae sendirian karena mau melihat ads Vernon. Emang nekat banget anaknya, tapi bucin diatas segalanya. Akhirnya gue menelepon resepsionis buat memesankan taksi, tapi nggak ada yang datang. Tanpa pikir panjang gue nekat naik subway berbekal peta dan arahan resepsionis. Belaga banget, padahal naik MRT di Jakarta aja belum pernah. Dan ya, seperti dugaan kalian. Gue nyasar! Padahal waktu udah menunjukan 12.30 dini hari. Kereta terakhir jam 12.48. Untungnya, ada banyak orang baik bantuin gue. Dongjun-ssi dan Chanwoo-ssi, makasih sudah bantuin! Akhirnya gue sampai Hotel dengan selamat. Gak jadi deh, nelepon KBRI minta jemput, haha ><. 


-Day 4.- 

Pagi itu setelah sarapan kami menuju ke Seoul Worldcup Stadium. Stadium bersejarah karena dipakai di Worldcup tahun 2002 Pagi itu suhunya sekitar 1 derajat jadi lumayan chilly.  Tentu aja gue take foto di stadium bersejarah dong!
       



Lalu kami berhenti makan siang. Kali ini menunya samgyetang alias ayam jahe! Ini enak banget, ayamnya juga nggak gede-gede banget jadi bisa dihabiskan, tapi hati-hati karena ada dua gelas disiapkan. Satu berisi arak dan satu berisi air mineral. Make sure buat cium dulu airnya!



Setelah itu kami naik cruise di Han River. Tapi sebelum itu, kami dibolehkan jajan. Jadi gue beli minuman manis yang namanya bbongbbong. Kayaknya kalau ada yang nawarin jastip gue bakal minta beliin ini seboks! (Gaktau beli seboks dimana, tapi kalau ada gue mau banget.) Sama tteokbokki samyang carbonara. Ada cerita lucu, jadi gue microwave tteokbokkinya kelamaan, alhasil tteokbokkinya meluber didalam. Karena gue takut, gue kabur sambil bawa tteokbokki tersisa jauh-jauh dari CU tempat gue beli. Jangan dicontoh ya HAHA.




 Kita nungguin cruise cukup lama, dan didalam juga nggak banyak tempat. Gue aja duduk di pinggiran jendela, Tapi untungnya, gue masih bisa lihat pemandangan kota Seoul dari sungai Han. Kami juga dikasih semacam anchovies gitu kalau ngga salah. Buat ngasih makan burung-burung di dek atas. Suhu terhangat yang gue dapatkan selama di Korsel adalah 4 derajat, dan selama di itu selama di cruise. Makanya gue cukup sering bolak-balik ke balkon. Karena suhunya anget dan pemandangan nya bagus! 





Sehabis itu bis melaju ke Shilla Duty Free, ini main buildingnya, berbeda dari yang gue kunjungi hari sebelumnya. Tapi masih sama-sama duty free. Bukan Clarissa kalau nggak beli lippen, hehe. Jadi gue mengincar liptint etude house tapi nggak jadi karena harus beli 3 nggak bisa satuan. Gue cuma ngincar satu warna aja. Akhirnya gue beli dua peripera (padahal hari sebelumnya udah beli peripera juga 2 buah, hadeeh) dan 3CE. Warnanya ga jauh-jauh dari bright red sama purple lah ya XD. 

Tadinya gue mau beli tas Marhen J, karena mumpung disini harganya lebih murah dari yang di Jakarta. Tapi ternyata cash gue sisa sedikit padahal masih harus ke Dongdaemun dan Myeongdong. Jadi gue mengurunkan niat buat beli. Sayang, sih. Huhu semoga ada kesempatan buat beli lagi disana lagi >< 


Ketemu Daniel >< Ketemu Mingyu juga aslinya, tapi nggak sempat foto HIHI. 

Lalu tujuan selanjutnya adalah Dongdaemun. Travel mengarahkan kami untuk berbelanja di sebuah mall(bentuknya kayak mall?) di dekat Dongdaemun Digital Plaza. Tapi jujur gue nggak begitu tertarik, beda banget sama ibu-ibu yang lain. Soalnya Dongdaemun itu sama aja kayak Mangga Dua versi Korea. Jual khas oleh-oleh banget, kayak gantungan kunci, tempelan kulkas, sendok-sumpit. Gue cuma beli tempelan kulkas titipan mami (karena dirumah, mami emang hobi ngoleksi tempelan kulkas dari banyak negara-negara.) dan banana uyu satu box karena seminggu setelah pulang gue ada rencana bertemu sama teman-teman dan mereka selalu bercanda minta dibawain banana uyu, jadi kenapa nggak dibawain aja sekalian? Gue nyesel banget nggak beli sendok dan sumpitnya sih, haha >< soalnya jujur gue suka banget makan pake sendok dan sumpit Korea. Mungkin lain kali teman gue kesana gue bakal nitip, atau kalau kapan-kapan gue ada rezeki buat kesana xixi.

Kalau mau beli barang branded sih ada Lotte Mall. Gue nggak sempat kesana tapi ada merk-merk terkenal terpajang didepan mall. Cukup ramai juga orang kearah sana. 

Subway Dongdaemun. 

Makan malam terakhir di Seoul adalah sup seafood, lagi-lagi gue lupa nama Koreanya. Kali ini gue nggak makan banyak karena enek banget. Hari itu suasananya lumayan anget. Waktu di Dongdaemun gue malah nongkrong didepan dan jajan tteokbokki pinggiran karena nggak banyak belanja. Waktu itu suhunya sekitar 2 derajat. Sempat ngacir ke Olive Young didekat sana buat liat lippen (iya, emang lippen terus marahin aja!). Gue biasanya cocok-cocok aja sama makanan Korea, tapi sup ini rasanya aneh banget buat lidah gue. Apa karena gue lagi masuk angin kali, yah? Tetap gue paksa makan karea gue kalau sudah maag ngerepotin banget. Nggak ada dokumentasi karena gue nggak enak badan, maaf ya HIHI. 

Setelah itu tourist attraction Seoul. Myeongdong! Sedari di Jakarta hal yang gue incar adalah lightstick. Btw, ada toko-toko juga loh di dekat subway Myeongdong. Namanya Myeongdong Underground, harus turun satu level dari Myeongdong Street. Lokasinya satu level dengan subway Myeongdong. Jadi gue memutuskan buat keliling-keliling dulu, tapi tetap nggak nemu. Jadi gue naik ke Myeongdong Street. Menurut salah satu user Reddit yang baru aja gue baca waktu makan malam, ada yang jual lighstick di Music Korea. Letaknya di Myeongdong 8 길, sementara lokasi gue naik dari Myeongdong Underground adalah Myeongdong 4 길. Jadi harus jalan cukup jauh. 

Myeongdong is a little tricky. Karena Myeongdong terbagi ke beberapa 길 (Street) dan di setiap Street pasti ada merk yang sama. Kayak misalkan di Myeongdong 4 길 ada Etude House, pasti di Myeongdong 5길 juga ada. Begitu di setiap street. Bahkan, di satu street yang sama kadang ada satu merk yang berbeda gedung. Di Myeongdong 8 길 ada dua Nike dan Nature Republic. Sempat kebingungan, karena waktu gue mencari Music Korea itu di alamat google terletak di Myeongdong 8 길 dan berada di lantai 2 Nature Republic. Di nature republic pertama, lantai dua mereka adalah toko baju. Akhirnya diberi tahu pramuniaganya kalau masih ada Nature Republic di ujung jalan, masih Myeongdong 8 길. Jadi harus hati-hati kalau nggak mau nyasar. Tenang aja, kebanyakan pramuniaga toko-toko di Myeongdong bisa berbahasa Inggris, Jepang atau China. Kalian bisa liat di nametag mereka untuk spesialisasi bahasa mereka. Karena memang kebanyakan pengunjung Myeongdong adalah turis. 

Gue nggak menemukan lightstick sesampainya di Music Korea, jadi gue berpuas hati untuk membeli 2 buah album. Harganya sekitar 15.000 Won, sekitar 170.000. Murah sekali kalau dibadingkan dengan harga beli di Indonesia yang sekitar 220.000 rupiah keatas. Namun ada hal sial! Dompet gue hilang! Gue panik banget! Untungnya paspor gue simpan di tas, bukan di dompet. Gue selalu simpan debit di case hape, jadi aman. Gue panik karena dompet gue masih ada sekitar 35.000 Won. Akhirnya gue berberat hati meminjam duit Adik dan menggantinya di Jakarta nanti. Untungnya, dompet gue ditemukan sama tante! Jadi, ternyata dompet gue tertinggal didepan Zara waktu gue mau duduk-duduk. Sumpah, ini keberuntungan banget! I mean out of thousand people in Myeongdong, it was found by my Aunt. Akhirnya uang adik gue, gue ganti saat itu juga. 

Sehabis itu gue ke The Saem, tadinya mengincar barang-barang SEVENTEEN karena mereka brand ambassadornya, tapi ternyata nggak banyak barang SEVENTEEN. Bahkan face wash SEVENTEEN nggak dijual melainkan bonus jika berbelanja serum sekitar 60.000 Won. Untungnya handcream Seventeen sedang promo buy 1 get 1. Gue sebenarnya sudah punya satu dirumah tapi gue beli lagi gambar member yang berbeda. Satu lagi akan gue hadiahkan ke teman gue yang berulang tahun dalam waktu dekat. Gue terpaksa harus gesek belanja di the saem karena cash yang sudah nggak mencukupi. Sebenarnya nggak rela karena chargenya lumayan gede huhu. Gue ke The Saem sendirian karena adik gue mau istirahat aja duduk-duduk di emperan toko. Dia duduk di emperan Zara kalau gak salah. Suprisingly, gue malah jadi hafal jalan dari Myeongdong 4길 - Myeongdong 8 길 karena insiden kehilangan dompet yang membuat gue bolak-balik. Jadi setelah beli the saem gue strolling around sendirian. Seru banget juga ternyata ya ><. 



Lalu selesai schedule terakhir kami, jadi kami beranjak pulang. Travel bilang kalau masih ada yang mau belanja, boleh, tapi harus pulang sendiri. Hotel kami berlokasi di Insadong, nggak terlalu jauh dari Myeongdong, bisa ditempuh jalan kaki, pula. Beberapa orang memutuskan buat stay belanja. Sedangkan gue mau cepat-cepat balik, mandi air hangat dan packing. 

Sebelum berangkat ke Korea, gue bertekad kalau gue cuma mau liburan. Nggak usah fokus belanja atau foto-foto, makanya dokumentasipun nggak banyak, kebanyakan ambil dari archive instagram. Begitupula dengan belanja. Gue baru sadar kalau gue nggak banyak 'belanja' waktu packing. Gue membawa satu koper penuh, dan pulang satu koper penuh nambah barang di sportbag, itu juga nggak penuh. Saking sedikitnya barang di sportbag, sportbagnya bisa dilipat mengikuti bentuk barang! Kinda proud cos i am usually a very unconsiderate person in terms of shopping. Sedangkan roomate gue, membawa 2 koper dari Indonesia, lalu sebelum pulang dia membeli lagi satu koper tambahan dan sportbag yang diberikan travel juga terisi penuh. That's a very good amount of money, tho. 

Malamnya setelah packing gue laper banget, jadi gue memutuskan buat keluar ke GS25 disamping Hotel. I swear to god, i did not regret going out that night. It's snowing! Hujan Salju! Niat gue awalnya cuma keluar, beli makanan, dan kembali. Tapi malah spend waktu didepan GS25 lari-lari kayak orang gila hanya karena hujan salju. Gue bukan lari-lari ketakutan, gue lari-lari kesenangan. Benar deh, gue lari-lari kayak tokoh film gitu. Gue inget banget lagu yang terputar di earphone gue malam itu Something Never Change , soundtrack Frozen II. Gak tau ini kebetulan macam apa. Yang jelas gue senang banget bisa ngerasain hujan salju. Besoknya gue pamer, loh, sama orang-orang. Mereka iri karena gue sempat ngerasain hujan salju! 

Anyway, gue beli 돈벌라면 yang pedas banget. Tapi enak, cuma pedas banget, bahkan buat orang yang suka pedas kayak gue. Gue juga beli coolpis sih, (hayo yang suka nonton mukbang pasti tau ini apa!) tapi jujur aja, nggak ngaruh sama sekali. Gue sampai gak bisa tidur karena kepedasan padahal gue paginya flight jam 10. 

- Day 5.- 

Hari terakhir, kami nggak sarapan di hotel melainkan di restoran Udon yang nyambung sama toko oleh-oleh. Kami berangkat sekitar jam 5 dari hotel. Ibu-ibu terlihat excited banget padahal semenjak datang, kami udah berhenti di 4 toko oleh-oleh. Gue yakin mereka juga sudah beli koper tambahan karena nggak muat. Cuma gue bisa mengerti sih kenapa mereka beli oleh-oleh banyak banget, hanya saja gue bukan tipe orang kayak begitu. 

Kami tiba di Incheon Airport sekitar jam 8. Travel menginstruksikan untuk check in sendiri-sendiri, dan jika mau tax refund dari belanja di duty free bisa mengikuti guide. Sebenarnya gue belanja lebih dari 9.000 Won sih, tapi males banget ngurusnya. Karena yang belanja lebih dari 50.000 Won aja tax refundnya paling hanya 2.000 Won-5.000 Won. Jadi gue nggak ngurus tax refund. Ohiya, akhirnya gue belajar check in sendiri! Tapi salah gue juga, gue tertinggal jauh di belakang dan adik gue sudah duluan bersama om-om yang akhir-akhir ini jadi sohibnya selama di Korea. Alhasil, tempat duduk kami jadi jauh. Dia di 29H sedangkan gue di 47H. Jadi gue janjian sama dia di tempat pengambilan bagasi sesampainya di Jakarta karena kartu SIM gue hilang dan gue nggak bisa menghubungi dia langsung sesampainya landing. Wifi bandara di Soekarno Hatta juga nggak terlalu luas. 



Imigrasi Korea masih sangat menyeramkan, petugas di kubik gue sangat ketus dan beberapa kali meninggikan nada waktu ngomong sama gue. Gak bohong gue takut banget, but that's another story to tell. 

Incheon hari itu terik sekali, padahal suhu -2 derajat. Kami nggak nunggu terlalu lama karena jam 9.30 sudah call dari pesawat. Lagi-lagi perjalanan balik gue menaiki pesawat Garuda direct. 



Gue mendapat duduk di barisan pojok, lalu gue minta tukar tempat duduk sama orang sebelah gue. Untungnya beliau mau, haha. Gue anaknya takut tinggi, but being in a plane make my feel safer, tentu aja gue gak mau melewatkan kesempatan pemandangan dari atas langit. Walaupun beberapa kali selama 7 jam penerbangan gue sempat berat nafas karena panik ketinggian. I did passed it safely though! 




Didalam pesawat, akhirnya setelah 5 hari gue memakan makanan Indonesia. Menunya nasi kuning, tetapi masih disediakan kimchi karena banyak juga penumpang dari Korea. Ohiya, gaktau kenapa makanan hari itu enak, nggak kayak typical makanan pesawat. Apa karena gue excited mau pulang dan menyapa suhu 30 derajat Jakarta lagi ya? 


Bumi berbaik hati setibanya gue di Jakarta. Karena hujan, suhu hanya 26 derajat. Seakan-akan tubuh gue disuruh beradaptasi dulu. Mungkin bedanya masih jauh, tapi nggak sepanas suhu Jakarta yang biasanya berkisar 31 - 33 derajat. 

Gue juga dapet kartu kuning kewaspadaan kesehatan (yang akhirnya berguna karena gue jadi Orang Dalam Pantauan 2 minggu kemudian.) 




And that's it! My trip was officially over. Saatnya kembali ke kenyataan. Gue landing di Jakarta hari minggu, besoknya langsung sekolah dan dirundung oleh pertanyaan, "oleh-olehnya mana klar?" Maaf teman-teman, buat diri sendiri aja nggak bawa banyak. 

To sum it up, my trip was a very fun one! Though gue kedapetan apesnya, karena apparently, the week i was there is the peak of the winter, makanya suhu rendah sekali dan angin kencang sekali. Suhu terpanas yang gue rasakan cuma 4 derajat. The only problem with me is bidet in toilet and the time, it was too short! Kalau gue punya kesempatan lagi, gue bakal definitely ke Korsel lagi. But maybe about 2 or 3 weeks? Moreover, i wont use travel again, Not because i hate them (no offense to my last travel, theyre doin great!) but i love freedom and trip with scheduling with travel agencies is not just my thing. 

Anyway, it is over, my super-long article. Not sure anyone will read this though, hehe. See you later!

Lots love, 

klars xoxo. 
















You Might Also Like

4 komentar

  1. mau bangettt ke korea jugaa<3

    BalasHapus
  2. aku baca dari awal sampai akhir loh, keren gak tuh? wkwk,,
    ngakak banget waktu bagian "Sakit boleh norak jangan lupa!"

    BalasHapus