Awalnya begini, gue punya satu sahabat laki-laki ((soalnya sahabat laki-laki gue banyak)). Kita sekelas di kelas tujuh dan delapan, tetapi pisah dikelas sembilan karena gue masuk kelas unggulan. Tapi jujur aja, dia sebenarnya lebih pintar jadi enggak jarang gue nanya pelajaran ke dia. Jadi, di kelas sembilanpun kita masih kontakan dan cukup akrab. Terlebih lagi, wali kelasnya adalah guru matematika gue yang jujur aja cukup menyebalkan tapi gak bisa dipungkiri juga beliau punya peran besar kenapa nilai gue bisa 95 di UAS kemarin.