REVIEW : Never Have I Ever
Juni 02, 2020
Hai, gue mutusin buat bikin segmen baru karena gue banyak nonton series selama masa PSBB. Well, gue nggak bisa bilang kalau review yang gue berikan ini akan reliable dan enak dibaca. Tapi setidaknya kalian bisa sedikit mengetahui bagaimana film dan series ini di perspektif gue. Without furthur ado, here's the first one!
(DISCLAIMER : This is my pure opinion, and all of the pictures is credited to the Internet, Google, because netflix wont let me screenshot a thing.)
(DISCLAIMER : This is my pure opinion, and all of the pictures is credited to the Internet, Google, because netflix wont let me screenshot a thing.)
Gue baru aja menyelesaikan series ini minggu lalu, cuma terlalu malas buat nulis reviewnya, lol, maafkan guys. I finished this series pretty fast, actually. Satu episode hanya berdurasi sekitar 20-30 menit, dengan total 10 episodes di season ini (Nggak tahu kalau bakal rilis season 2 nya atau nggak, but i'll make the review for s2 if it did). Mungkin karena durasi yang lumayan singkat dan sleep schedule gue yang berantakan banget, ya? Makanya gue bisa menyelesaikan series ini dengan cepat. Karena jujur aja gue bukan orang yang enjoy menonton, gue lebih ke reading person.

For starter, Devi Vishwakumar is a 15 years-old Indian-American who lived in Sherman Oaks, California. Devi had a very horrible freshmen year, if i can say. Papanya meninggal di pertunjukan orkestranya, sehabis itu Devi jadi trauma berat yang mengakibatkan dia kehilangan fungsi kakinya selama 3 bulan. Selama 3 bulan itu, Devi terpaksa harus pakai kursi roda kesekolah. Dan hal itu menghancurkan reputasi Devi banget.

Devi dengan ajaib sembuh dan bisa berjalan di Sophomore Year. Walaupun Devi udah bisa berjalan, orang-orang tetap aja mengingatnya sebagai cewek yang menghabiskan 3 bulan terakhir Freshmen Year diatas kursi roda. Oleh karena itu, Devi berencana mengubah total imagenya di Sophomore Year. Tapi halangan nya banyaaaaak banget, bikin ngelus dada.
Kalau dilihat dari perspektif anak SMA Indonesia, jalan cerita series ini mungkin nggak relatable-relatable amat (Tapi jujur, buat gue pribadi ini sangat-sangat relatable.) Tapi kalau masalah perasaan, ini relatable abis. Penonton remaja bisa dengan gampang ngerasain kefrustasian dan kebahagiaan nya Devi. Karena walaupun nggak sama persis, karena jelas aja kita punya culture yang beda, tapi kita pasti pernah ada di point yang sama kayak Devi. Sedikit-banyak bisa bersimpati dengan Devi.
Gue sendiri sangat enjoy dengan series ini karena walaupun durasinya sebentar, tapi plotnya enggak buru-buru. Selain itu, penyampaian nya juga sangat ringan. Cocok banget dengan penonton remaja. Tone filmnya juga colorful abis, bikin mata terang nonton nya! Recommended banget buat kalian yang mau nonton series ringan yang nggak ringan-ringan banget.
Overall, gue bakal kasih series ini 8.5/10.
And that's it, my review for Never Have I Ever, i hope this review will bring you some insight. I will continue to write reviews for upcoming series/film that i will watch. Until then, please be happy and be healthy !
Xoxo,
Clarissa.

2 komentar
Bagaimana caranya berlangganan Netflix Indonesia? Setauku Netflix itu diblokir oleh pemerintah jadi mau bukanya aja harus pake VPN
BalasHapusNetflix gak di blokir di Indonesia kok, cuma diblokir oleh Telkom (Indihome, Telkomsel). Kalau pakai provider lain masih bisa ^^ Kebetulan aku pengguna Indihome dan Kartu Halo jadi aksesnya pakai VPN. Dan bisa berlangganan pakai kartu kredit Indonesia ^^
Hapus