Kamar Mandi.
November 01, 2020
Kayaknya, jurig-jurig di kamar mandi gue udah bosen ngeliat gue out-of-nowhere masuk jam dua pagi, kadang sambil sebat kadang cuma bawa hape sambil dengerin musik sambil nangis-nangis meratapi hidup yang kadang ada aja gitu cobaan nya. Kayaknya, mereka udah capek buat bergumam, "lah ngapain lagi nih bocah?"
Kamar mandi selalu jadi comfort places gue dirumah selain di kamar. Yes, kamar mandi itu bau, kamar mandi banyak jurignya, mana dingin banget lagi. But i somehow find peace on it. But i somehow bisa nangis-nangis dengan lega diatas toilet yang god-knows why ga rubuh-rubuh walaupun gue dudukin secara kasar.
Jujur, awalnya gue bingung juga kenapa nangis di kamar mandi feelnya beda.
Tapi kemarin, tepat ketika gue dapet rejection pertama gue setelah bertahun-tahun, gue mulai mikir kenapa.
Dan ya, that was my first rejection for years. Rasanya, semenjak kelas 8 SMP, hidup gue rasanya lancaaaar banget. Gue daftar OSIS SMP? Keterima. Rata-rata NEM? diatas 85. Masuk SMA impian gue, dan punya nilai yang stabil walaupun nggak di posisi teratas. Dua kali nonton konser grup kesukaan gue. Bonus gue pertama kali ke luar negeri, sendirian, tanpa orang tua di periode ini. Apa hoki gue udah kepake semua kali ya?
Gue nggak mau jabarin jelas what kind of rejection i receive, because it is that hard for me to explain. But its something i was soooo confident for. Usually, i always get what i was confident for. Because i know what am i capable to do, and if i dont, i will not join or do it. That is why, also, i never set my expetation too high.
I wouldnt say it felt like my world is turning upside down, in fact, it doesnt. I still can write this long-ass paragraph of rants. I still watch seventeen's contents even though i feel like i dont have much energy to hype them up on twitter. I still finished my alternate universe that i will kept on my drafts. It pretty much the same except it felt empty. I dont know, maybe karena gue udah terlalu lama nggak ngerasain rejection kali, ya? So when i feel it again, it comes as a weird feeling, its not familiar. I know this wouldnt last forever. I will find another things to fight for, i will find another things to be excited for, i will gain energies to be back on the internet later. But still, it is weird that it made me cry for a solid hours.
Anyway, balik ke kamar mandi.
I realized that kamar mandi gue nggak gede.
Iya, itu poin nya.
Gue tinggal di sebuah perkampungan di Kota Bekasi, berbatas dengan Kota Jakarta Timur. Yang mana kalian tau, kota yang berisik, banget. Apalagi karena di kampung, teriak-teriakan bocah, genjreng-genjrengan gitar sampai jam dua pagi, sama suara berisik mobil dari jalan tol (karena perkampungan tempat gue tinggal persis di pinggir tol) itu yang mewarnai tumbuh kembang gue selama ini. Belum lagi klakson kendaraan dan kemacetan yang gue alami tiap pagi selama 14 tahun belakangan.
Gue tumbuh di kota yang gakpernah tidur, sampai gue nggak sadar kalau gue nggak bisa ada di tempat yang sepi.
Gue inget banget waktu gue balik ke Padang rasanya aneh banget karena kotanya sepi, gak rame kalau malam. No offense buat warga Padang tapi guenya aja yang gak bisa tinggal di kota yang sepi.
Selama ini gue suka pergi ke tempat-tempat ramai sendirian, cuma buat ngerasain ada ditengah-tengah crowd. Cuma buat ngerasain kalau, "oh, rame.."
Gue jadi tenang.
Makanya ditempat yang luas tanpa ada banyak orang cuma bikin gue anxious. That just not my kind of peace. Makanya gue cuma bisa ngeluh setiap kali diajak orang tua ke bogor atau puncak buat refreshing. Alih-alih, gue malah jadi ketakutan karena tempatnya luas dan sepi. Rasanya gak aman buat gue.
Makanya kenapa gue bisa nangis lega di kamar mandi? Ya mungkin, karena kamar mandi gue nggak gede jadi gue ngerasa aman. Mungkin lain cerita kalau gue ada di kamar mandi hotel kamar suit yang luasnya minta ampun.
Atau kalian punya pendapat lain?
Best regards, c.
0 komentar